Minggu, 24 Januari 2010

my little story 'bout my little dog's

Aku baru saja mendengarkan cerita temanku mengenai sebuah film korea yang sangat menyentuh hatinya. Ia lupa judul film tersebut. Yang ku tahu, dia menangis terharu menonton film itu. Film itu bercerita tentang dua kakak-beradik yang telah kehilangan ayahnya dan ditinggalkan ibunya, sang kakak sangat menyayangi adiknya. Saat adiknya ulang tahun, ia menghadiahi adiknya seekor anak anjing sesuai dengan permintaan adiknya.

Anjing ini setia mengikuti mereka kemana pun mereka pergi. Suatu ketika, saat anjing ini melakukan kebiasaannya-menunggu sang adik di sebuah stasiun- sang adik kecelakaan hin gga meninggal. Anjing ini tetap menunggunya. Kakak yang mengetahui kematian adiknya menyalahkan si anjing yang tidak bisa menjaga adiknya. Ia memukuli anjing itu dan mengusirnya. Namun anjing itu tetap setia bersamanya.

Anjing ini menjaga sang kakak dengan sungguh-sungguh, saat pemiliknya sakit, ia menyelimutinya dengan Koran dan tidur di sampingnya. Ia juga menyelamatkan sang kakak yang dipukuli oleh makelar pengemis. Singkat cerita, mereka melarikan diri namun tertangkap. Anjingnya dipukuli hingga sekarat. Teidak berapa lama, ibunya dating dan ingin menjaga sang kakak. Beberapa hari mereka tinggal bersama sang ibu, anjing ini pun mati.

Mendengar cerita temanku di atas, aku teringat akan anjing-anjingku yang dulu sangat setia. Aku memiliki beberapa anjing pada waktu yang berbeda. Diantara semua aning peliharaanku, ada tiga anjing yang sampai saat ini masih sering kupikirkan. Anjing-anjing itu antara lain molly,bola, dan molen. Beikut sepenggal kisahku tentang mereka, dengan prilaku yang berbeda:

1. Molly

Molly anjing yang memiliki bulu putih yang bertotol cokelat. Ia paling tidak suka mandi, sehingga butuh waktu dan tenaga ekstra untuk memandikannya,hahaha. Sewaktu baru tiba, ia mungkin baru berusia dua minggu. Malam hari saat ia baru pertama kali tidur di kandangnya, ia menggonggong nyaring, namun karena ia masih kecil, suara gonggongannya sangat lucu. Aku terbangun dan segera ke kandangnya, ternyta ia sedang bertengkar dengan seekor tikus,hahaha.

Waktu demi waktu berganti, ia semakin besar, pintar, dan nakal. Ia memiliki hobi menggigiti kaus kakiku saat aku pulang sekolah. Ia mengajakku bermain kejar-kejaran dan duel,hahaha. Kadang dia sangat menggemaskan, sering sangat menjengkelkan. Tapi aku sangat menyayanginya. Susu yang dibuatkan untuk sarapan selalu kusisakan untuk makan paginya.

Suatu saat, seisi rumah bingung karena molly tidak ada dimana-mana. Aku menangis seharian sambil berteriak memanggilnya. Papaku pun pergi keliling pasar untuk mencari molly. Beberapa hari kemudian ada yang memberitahu papaku bahwa ada orang yang menemukan anjing dengan ciri-ciri seperti yang diceritakan papaku. Aku lang sung bersemangat lagi dan segera meminta papku mencari orang tersebut. Benar saja, molly berada disana dalam kondisi di rantai (cerita papa). Papaku segera membawanya pulang, saat telah berada di dekat rumah, sebelum papaku memberhentikan motornya, aku berteriak dan memanggil molly. Seketika itu pula ia loncat dari motor dan melompat kearahku, aku langsung memeluknya sambil terus mengelus punggungnya. Saat itu aku benar-benar berterima kasih pada Tuhan karena diijinkan bertemu lagi dengannya . sedikit berlebihan mungkin, namun itulah yang dirasakan oleh anak berusia kelas 5 SD saat itu.

Kadang aku berpikir apa yang akan terjadi jika suatu saat molly mati. Sesegera mungkin aku menghapus pemikiran tersebut dan kembali bermain dengan molly. Namun, ternyata apa yang kupikirkan benar-benar terjadi.

Kejadian itu berawal ketika aku dan mama pergi membeli jajanan di warung. Saat itu molly mengikuti kami sampai ke tengah jalan raya. Waktu itu jalanan sangat sepi, aku berkata pada molly” molly, jangan maen di tengah jalan, nanti kamu ditabrak mobil..” entah mengapa aku berbicara seperti itu padanya. Aku pun meniggalkannya dan berlari menyusl mama. Sepulang dari warung, aku melihat darah berceceran di tengah jalan. Perasaanku tidak enak dan segera memanggil molly. Benar saja, ia tidak muncul, aku langsung mencari papaku dan menanyakan tentang molly. Dengan hati-hati papaku bilang bahwa molly tertabrak mobil. Lututku lemas, jajanan yang kubeli di warung sudah tidak menarik lagi bagiku. Aku kembali ke jalan raya dan melihat darah molly yang mulai mongering. Airmataku jatuh. tanpa suara aku menangis. Diam hingga begitu lama sampai papaku memarahiku karena aku tidak mau makan. Sejak saat itu aku tidak memiliki keinginan untuk memelihara binatang apapun. Kepergian molly sangat menyakitkan bagiku.

2. Bola

Bertahun-tahun setelah kematian molly, kami benar-benar tidak memelihara anjing sama sekali. Sampai suatu hari papaku membawa dua ekor anjing ke rumah. Aku marah dan menolak untuk memelihara anjing itu. Jujur, aku sangat takut bila suatu saat akan kehilangan lagi. Satu anjing berwarna sama seperti molly, dan yang satu lagi berwarna cokelat. Papaku menyuruhku memberi nama untuk mereka. Dengan enggan aku menamainya bola-boli. Bola untuk anjing yang berwarna cokelat. Ia penakut, dan sering menangis, membuat ku tidak suka padanya. Boli untuk anjing yang berwarna putih bercak coklat, ia anjing yang aktif dan bersemangat, ia juga penurut, sehigga semua keluargaku menyukainya. Beberapa hari kemudian, boli hilang (mereka memang di lepas/tidak di kandang). Aku langsung mengulangi kata-kataku”tuh kan, apa cece bilang, ntar ilang lagi, mati lagi”.

Satu bulan kemudian, aku mulai memperhatikan bola, mengajarinya untuk jangan pipis semabarangan. Entah mengapa aku malah menjadi orang yang paling memperhatikan bola dalam keluargaku. Aku mengajaknya jalan-jalan, memberinya makan, kadang bahkan aku melakukan silly things dengan menyelimutinya dengan pakaian bekas saat hujan karena takut ia kedinginan.

Bola sangat suka bila diajak jalan-jalan dengan motor atau becak. Ia bisa duduk manis dan meilhat pemandangan di sekelilingnya saat berada di dalam becak. Pernah suatu kali ia pergi ke pasar dan tidak tahu jalan pulang. Teman papa yang bekerja sebagai tukang becak memanggilnya dan membawanya pulang dengan becaknya. Tetangga2ku berdecak kagum melihat tingkahnya yang seperti manusia itu.

Ada cerita yang mengesankan saat bola sudah besar. Waktu itu aku pergi ke rumah ayu, temanku untuk mengerjakan PR. Saat aku pergi, ternyata bola mengejarku. Aku tidak mengetahuinya karena aku dijemput dengan motor. Saat aku di rumah ayu, papa menelpon dan mengatakan bahwa bola hilang saat mengejarku tadi. Sepertinya ia kehilangan arah dan tersesat. Aku langsung ke halaman dan menunggu di pinggir jalan, berharap bola bisa mencium aromaku dan bisa sampai ke tempat ayu. Saat itu aku teringat kejadian beberapa tahun lalu tentang molly. Aku benar-benar tak ingin jika kejadian serupa itu terulang. Beberapa saat kemudian, aku melihat bola yang berlari kencang melewati rumah ayu. Sontak aku berteriak memanggilanya. Ia langsung berputar dan berlari ke arahku. Memelukku dengan caranya. Ayu yang melihat hal itu terharu dan ikut mengelusnya sambil berkata “anak pinter…” aku memarahi bola dan memerintahkannya untuk duduk diam saat perjalanan pulang. Selama di motor, ia menuruti perintahku. Aku mengelus punggungnya. Benar-benar tak terpikirkan bagaimana usahanya mencari aku. Setelah itu aku semakin menyayanginya dan semain membenarkan statement yang mengatakan bahwa anjing adalah hewan peliharaan yang sangat setia.

Kepergian bola untuk selamanya termasuk rentetan kejadian yang sangat mengenaskan. Ia pingsan setelah tenggelam di sebuah rawa selama dua hari. Saat papa menemukannya, ia masih hidup dalam keadaan yang sangat menyedihkan. Tubuhnya dipenuhi lintah dan lumpur. Setelah kejadian itu, ia sudah tidak percaya siapa-siapa lagi. Ia tidak mau didekati. Namun ia masih sadar saat dipanggil bola. Sepertinya ia mengalami trauma yang berat. Aku menangis melihat kondisinya yang berprilaku aneh. Teman-temanku bilang bahwa anjingku menjadi gila. Ia makan ranting, dan selalu terlihat kebingungan. Keesokan harinya aku menemukan dia terbujur kaku di ruang tengah karena keracunan. Lagi-lagi aku menangis. Namun kurasa ia pergi lebih baik daripada hidup dengan ketakutan seperti itu. Ia pasti menderita hidup dengan ketakutan seperti itu. Mungkin kematiannya dapat membuatnya lupa atas peristiwa buruk yang menimpanya. Aku ditinggalkan lagi…

3. Molen

Molen, anjing yang juga berwarna putih bercak cokelat, bisa jadi menjadi anjing yang paling lama yang bisa kurawat. Ia berusia beberapa hari saat dibawa ke rumahku. Lucunya, ternyata dia adalah cucu dari anjing yang dulu juga pernah kurawat, namun hanya sebentar karena dibawa oleh teman papa di kota lain. Karena termasuk salah satu keturunan anjing “luar”, ia termasuk anjing paling bagus yang pernah kupunya. Bulunya lebat, bersih, dan badannya besar.

Sejak hari pertama kami pelihara, ia sudah kami biasakan tidur di luar. Untungnya dia termasuk anjng yang kalem dan penurut, jadi tidak ada kekhawatiran dia akan hilang. Menu makanan yang diberikan pun mengikuti menu makanan kami, tidak susu dan makanan khusus seperti anjing yang sebelumnya. Ini dilakukan supay molen tidak menjadi manja.

Semakin hari ia semakin besar. Salah satu hal yang paling ia sukai yaitu dipangku oleh kami. Karena tubuhnya yang semakin besar, sering kami kesulitan untuk memangkunya. Molen juga bisa diandalkan saat menjaga rumah dan toko. Semua orang dan tetangga suka pada prilakunya yang tidak liar seperti anjing yang lain.

Sama seperti anjingku yang lain, molen juga termasuk anjing pintar. Ia selalu menurut saat disuruh mandi. Bahkan terkadang ia mandi sendiri di tempat yang kami sediakan. Ketika aku berangkat sekolah, ia selalu mengantarku sampai ke depan gerbang. Tak jarang ia mengikutiku sampai jalan besar. Fiuh…dia memang anjing yang lucu ;D

Hal yang paling berkesan dari molen kuterima saat aku mulai kuliah. Sewaktu aku libur di semester pertama. Pada waktu aku pulang, di jalan aku berpikir bahwa mungkin dia telah lupa padaku mengingat kita sudah tidak bertemu selama 6 bulan. Aku sampai di jalan depan rumah pukul 00.35 pagi (aku masih ingat karena sebelum turun dari bus aku melihat jam dulu). Tidak kusangka molen menyambutku dengan berlari kearahku. Ia menjadi keluargaku yang pertama kali menyambutku waktu itu ;D. karena ia memelukku, aku sempat berhenti di jalan dan tidak bisa langsung ke rumah. Setelah itu adik dan papaku membantu membawa barang2ku. Molen tetap mengikutiku. Pagi harinya, molen langsung ke atas dan membangunkan aku dengan caranya. Ia tidak akan berhenti menggangguku sampai aku duduk dan mengelus punggungnya beberapa menit. Saat aku akan kembali ke Semarang, dia tidak mau melepas kakiku. Ia bahkan mengejar travel yang mengantarku. Aku sempat menangis waktu itu.

Aku tidak pernah menyangka itu akan menjadi pertemuan terakhirku dengannya. Dua hari sebelum aku kembali ke rumah untuk libur semester 2, papa menelponku dan mengatakan bahwa molen diracuni orang. Mendengar kabar itu aku hanya terdiam. Kututup telpon dan aku menangis. Sayangnya aku lupa kalau saat itu ada di kontrakan kakakku. Waktu aku menangis, kakakku menghiburku, “udahlah, jangan teralu dipikirin, toh kalo nangis juga dia g bakal balik lagi…”

Sampai sekarang aku masih berpikir, kenapa dia harus pergi dua hari sebelum aku bertemu dia kembali? Padahal aku sangat merindukannya…. Sekarang aku sedikit mengerti. Mungkin ia tidak ingin melihat aku yang menangis karena melihat ia tergeletak tidak bernyawa.-mungkin itu hanya anggapan pribadiku, tapi pikiran itu cukup manjur untuk menghentikan tangisku saat mengingatnya-.

Sebuah catatan kecil untuk mengenang temanku saat aku sendiri,

pendengar setiaku saat aku mengutarakan isi hati yang tidak ingin kuceritakan ke siapapun,

alarmku di waktu pagi ;)

penjagaku dari orang-orang yang jahil,

penyemangatku saat aku putus asa,

penghiburku saat aku susah,

teman yang membuatku merasa dibutuhkan, dan diperlukan…

Jumat, 12 Juni 2009

sekali lagi kurasakan anugerah-Nya

Hari ini tanggal 10 juni 2009.. 4 hari setelah regenerasi,, masih sulit untuk dibayangkan bahwa aku telah menjadi ketua PMKK. Tak pernah sekalipun aku pernah bermimpi untuk menjadi ketua dalam bentuk apapun, karena aku memang tipe pekerja, bukan pemimpin. Bahkan sampai sekarang aku masih bisa merasakan keterkejutanku dan teman-teman saat mengetahui bahwa aku yang menjadi ketua mereka.

Menjadi ketua tanpa dukungan sejak awal dari pihak manapun bukanlah hal yang mudah. Banyak tekanan internal dan eksternal yang kuterima. Keadaan ini membuat rasa minder yang sedang berusaha kubuang kembali lagi tanpa permisi. Memenuhi setiap pemikiran dan perasaanku. Terbayang dibenakku betapa berat jalan yang harus kutempuh –tanpa dukungan-. Meski sepertinya hanya perasaanku saja, tapi penolakan tersirat benar-benar kurasakan saat itu. Sangat menakutkan..dan menyakitkan…

Saat masa-masa terpuruk itu, aku teringat kisah Daud sebelum menjadi raja yang sangat bersahaja. Pada waktu Allah memerintah nabi Samuel untuk mencari pengganti Saul, Ia tidak menyuruh samuel mendatangi kota besar atau terkenal pada masa itu. Allah memerintah Samuel pergi kota kecil yang tak terkenal sama sekali bernama Betlehem.

Cerita itu tak berhenti di kota yang tak dianggap. Di kota kecil itu, samuel diperintakan mencari seorang biasa bernama Isai. Isai memiliki delapan anak laki-laki yang salah satunya adalah anak pilihan Tuhan. Pada saat Samuel datang dan mengutarakan maksudnya, Isai segera mengumpulkan anak-anaknya dan menceritakan semua kelebihan mereka di hadapan Samuel. Beberapa kali Samuel tergerak untuk menuang minyak urapan pada ketujuh anak Isai karena kelebihan dan pengalaman yang mereka miliki. Namun saat itu juga Tuhan melarangnya dan berkata kira-kira seperti ini:” janganlah pandang parasnya atau perawakannya yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.”

Keenam anak Isai telah tampil dengan segala bakat dan kemampuan mereka, namun tak satu pun yang menjadi pilihan Tuhan. Hingga akhirnya Samuel bertanya pada Isai apakah masih ada anaknya yang belum datang. Mendengar pertanyaan seperti itu, Isai menjawab dengan heran seperti ini: “masih tinggal yang bungsu, tetapi sedang menggembalakan kambing domba.” Pernyataan Isai memperlihatkan bahwa ia sama sekali tidak memperhitungkan Daud sebagai seseorang yang pantas untuk dipilih. Pikiran Isai yang seperti ini juga diperkuat dengan prilakunya yang sama sekali tidak mengajak Daud ke upacara pengorbanan, melainkan menyuruhnya menggembalakan kambing domba-suatu pekerjaan hina jaman itu-.

Sungguh menyedihkan bila melihat kondisi Daud pada saat itu. Di saat keluarganya mengikuti upacara yang dihadiri orang penting, ia malah menggembalakan kambing dombanya. Di saat keluarganya berkumpul untuk menentukan hal yang besar, ia malah di singkirkan secara halus. Sama sekali terlupakan. Tidak dianggap. Diremehkan. Namun, apapun yang dilakukan manusia, rencana Tuhan tetap terlaksana. Seseorang yang dilupakan dan tidak dipandang, diurapi menjadi raja. Roh Tuhan berkuasa atasnya, selamanya.

Cerita di atas sangat memberkatiku. Aku yang bimbang karena merasa sendiri segera terenyuh saat membaca kisah Daud. Seorang yang bukan siapa-siapa yang dibentuk Tuhan menjadi seorang yang akan selalu diingat sepanjang masa. Daud diurapi tanpa dukungan manusia, satupun. Namun Allah mendukungnya secara penuh sehingga ia menjadi raja. Allah mendukungnya bukan tanpa alasan, Ia mengenal hati Daud secara keseluruhan. Di masa sulitnya, Daud tetap memuji Allahnya dengan kecapi dan puji-pujian. Saat ia diremehkan saudara-saudaranya, ia tetap setia dan tidak kecewa pada Allahnya. Di saat ia diperintah menggembala, ia tetap setia melakukannya, meski ia tahu betapa tidak berharganya pekerjaan seorang gembala.

Cerita tersebut ku coba mengasosiasikannya dengan kehidupanku saat ini. Aku yang tidak bisa apa-apa dalam hal kepemimpinan, aku yang tidak punya pengalaman sama sekali sebagai ketua panitia apapun, aku yang tidak diperhitungkan bahkan oleh diriku sendiri, tetap Ia percayakan tanggung jawab besar itu. Ia memang tidak memandang rupa dan kemampuan, tetapi Ia melihat hati. Bukan berarti aku menganggap hatiku suci dan berhak sombong atas hal itu. Satu hal mendasar yang kudapati disini, meskipun aku tidak bisa apa-apa, Tuhan akan memampukan aku. Meski aku lemah, Tuhan yang akan menguatkan aku. Aku sangat yakin akan hal itu, mengapa? Karena Tuhan Daud Tuhanku juga, apa yang mungkin Ia lakukan bagi Daud, bukan mustahil untuk Ia lakukan padaku. Satu hal yang harus ku perhatikan, tetap menjaga hatiku untuk selalu dekat dan peka terhadap perkataan-Nya. Dan kuharap teman-teman juga seperti itu.
God bless…

Nb:
Untuk Bapa yang mau percaya padaku:
Terima kasih atas kasih setiaMu
Terima kasih ,,kau memberikan apapun yang aku butuhkan dengan caraMu,
Bukan caraku
Terimakasih, Kau selalu memberikanku sesuatu dengan waktu yang tepat,,
Kau selalu memikirkan apakah aku telah siap menerima pemberian darimu,,,
Baik itu berkat maupun ujian..
Tolong aku agar dapat selalu lulus dari setiap ujian yang Kau berikan
Agar aku dapat mencapai level yang lebih tinggi dalam pembentukan karakter dan kondisi rohaniku
Bantu aku agar aku dapat selalu dekat padaMu, mengerti perintahMu dan menjalankannya
Jangan biarkan aku melenceng dari jalanMu
Karena Kaulah jalan dan kebenaranKu,,
Sekarang,, selamanya…


Kamis, 26 Februari 2009

kadang

kadang,

ada asa menguap di saat orang yang diharapkan tidak melakukan hal yang diinginkan

kadang,

ada takut memancar di saat hampir kehilangan

kadang,

ada khawatir yang terkuak di saat ada yang salah mengerti atas sebuah perbuatan

kadang,

ada keraguan yang tercipta di saat semua masih misteri

kadang,

ada kecewa yang muncul di saat tidak ada perhatian

namun

kadang,

yang terjadi itu menambah warna dalam kehidupan yang kadang terasa polos dan hampa

020108

,.,.,

Perasaan

terbuang saat dibutuhkan

sepi dalam keramaian

putus asa pada pengharapan

terpuruk waktu bangkit

sedih ketika tertawa

Membuatku

ingin berteriak

dan

menangis..

020108

Kamis, 22 Januari 2009

Tuhan Tahu

Beberapa hal yang dapat mendorongmu untuk tetap bertahan:

Jika kau merasa lelah dan tak berdaya dari usaha yang sepertinya sia-sia

Tuhan tahu betapa keras kau berusaha

Ketika kau sudah menangis sekian lama dan hatimu masih terasa pedih..

Tuhan sudah menghitung airmatamu

Jika kau pikir bahwa hidupmu sedang menunggu sesuatu dan waktu serasa berlalu begitu saja..

Tuhan sedang menunggu bersamamu

Ketika kau merasa sendirian dan teman-temanmu terlalu sibuk untuk menelepon

Tuhan selalu berada di sampingmu

Ketika kau pikir bahwa kau sudah mencoba segalanya dan tidak tahu hendak berbuat apa lagi..

Tuhan punya jawabannya

Ketika segala sesuatu menjadi tidak masuk akal dan kau merasa tertekan..

Tuhan dapat menenangkanmu

Jika tiba-tiba kau dapat melihat jejak-jejak harapan

Tuhan sedang berbisik padamu

Ketika segala sesuatu berjalan lancar dan kau merasa ingin mengucap syukur..

Tuhan telah memberkatimu

Ketika sesuatu yang indah terjadi dan kau dipenuhi ketakjuban..

Tuhan telah tersenyum padamu

Ketika kau memiliki tujuan dan mimpi untuk digenapi..

Tuhan sudah membuka matamu dan memanggil namamu

Ingat,, bahwa dimanapun dan kemanapun engkau menghadap..

Tuhan tahu

“Aku mengerti apa yang tak kau mengerti, anakKu”

aku.. kecewa.. bukan ini yang kuharapkan.. aku hanya ingin mereka tahu kalau aku cemas.. aku takut,,hiks, aku ingin menangis saking takutnya,,hiks hiks ” tangis Nalya dalam kamarnya. Saat itu Nalya baru mengadakan pesta ulang tahunnya yang ke-19. Sebenarnya, tujuan perayaan itu, bukan hanya untuk bersenang-senang atas hari jadinya, tetapi juga untuk melepaskan rasa cemas yang menghantuinya. Ya.. ia ingin diperhatikan, didoakan, dan dihibur oleh teman-teman dekatnya. Keinginan yang terlalu kekanak-kanakan untuk seorang gadis yang telah berusia 19 tahun…

Di pesta itu ia memang berkumpul dengan teman-temannya, berbicara mengenai banyak hal, tertawa, bercanda dan berdiskusi mengenai hal lain, kecuali satu, tidak ada pembicaraan mengenai kecemasannya, kegalauannya, bahkan tidak ada doa bersama dalam pesta tersebut. Hal yang sesungguhnya sangat dibutuhkan oleh seorang Nalya saat itu.

Kini dalam kamarnya, Nalya mengungkapkan kesedihan,ketakutan, dan kekecewaannya dalam tangis, dalam kesendirian.. “Bapa, tidak bisakah aku berharap pada orang yang selama ini dapat mengerti aku? Kenapa semua jadi begini? Hampa, kosong, dan aku tetap ketakutan.. sejak awal rencanaku gagal, apa yang sudah kususun dengan begitu rapinya berantakan, bahkan terkesan sia-sia..apa salahku? Hiks..hiks” akhirnya Nalya bertanya pada Pribadi yang sepanjang hari ini hanya ia sapa satu kali. Namun yang terdengar hanya suara hening malam, tidak ada jawaban atas semua pertanyaan yang diajukan Nalya, hingga ia tertidur.

Selama tidurnya, Nalya selalu mendengar suara yang berkata “ janganlah engkau berharap pada manusia, harapan pada manusia hanya akan membawamu pada kekecewaan, berharaplah pada Tuhan Allahmu yang mengetahui segala sesuatu, karena Ia akan memberi tahumu tentang segala sesuatu yang tak kau mengerti”. Paginya ia terbangun dengan sejuta pikiran di benaknya. Saat itu ia mengerti, apa yang membuat semua rencananya berantakan. Pertama, ia tidak mengikutsertakan Tuhan dalam rencana yang ia buat. Kedua, ia terlalu berharap pada orang-orang disekitarnya. Ketiga, ia terlalu sibuk memikirkan hal-hal yang tidak ia mengerti dengan otaknya sendiri, tanpa mau menyerahkan semua masalahnya kepada Yang mengerti akan semua hal. Semua pertanyaannya terjawab. Apa yang terjadi bukan karena kesalahan teman-temannya, bukan karena kesalahan keluarganya, juga bukan karena kesalahan penyakitnya. Bukan kesalahan yang menjadi fokus pada apa yang terjadi dalam hari-hari Nalya, melainkan bagaimana ia menjalani salah satu proses pendewasaan diri dari Pribadi yang sangat menyayanginya. Pagi itu ia juga teringat akan tulisan yang ia baca kemarin: kepuasan bukan berasal dari kelimpahan yang didapatkan, tetapi dari sedikitnya keinginan yang disertai rasa syukur.

Nalya tersenyum, ia memang tidak dapat mengulang hari kemarin, namun ia berbahagia karena ia diingatkan kembali betapa Tuhan mengasihinya, Ia ada disaat Nalya menangis, Ia ada di saat ia sendiri, dan Dia mengerti perasaan anakNya. Kecemasannya untuk hari ini jauh berkurang, karena ia yakin, sebentar lagi ia akan melihat pelangi yang begitu indah bersama Tuhannya. Perlahan senandung keluar dari mulutnya:

Apa yang kau alami kini

Mungkin tak dapat engkau mengerti

Satu hal tanamkan di hati

Indah semua yang Tuhan bri

Tuhanku tak akan memberi

Ular beracun, pada yang minta roti

Cobaan yang engkau alami

Tak melebihi kekuatanmu

Tangan Tuhan sedang merenda

Suatu karya yang agung mulia

Saatnya kan tiba nanti

Kau lihat pelangi kasihNya